BeFunky_UnitedColors_2

7 Januari 2013. Pagi ini hujan telah mengguyur kota ku. Hm… Kota Wonosobo yang Asri, yang sekarang diguyur hujan. Jalanan terlihat sepi. Sebagian orang memilih untuk tetap di rumah, menghabiskan waktu ditemani secangkir teh yang hangat juga camilan yang hangat pula, enak yaa. Namun berbeda dengan aku dan orang-orang yang diharuskan untuk bekerja dan bersekolah. Tidak ada perintah yang berbunyi, jika cuaca cerah, berangkat sekolah, jika hujan turun, sekolah libur. Atau, jika cuaca cerah, harus ke kantor, jika hujan turun, bersantailah di rumah. Terlalu dimanjakan sepertinya.

“Anna berangkat yaa… Assalamu’alaikum…”, pamitku pergi ke sekolah. Bapak mengantarkanku keluar rumah, hingga aku mendapatkan angkot. Dibawanya payung besar, agar aku tak terkena satu tetespun dari tetesan hujan lebat ini. Menunggu angkot yang tak kunjung muncul.

Terlihat angkot dari kejauhan, perlahan mendekat. Tangan ku lambai-lambaikan sebagai tanda aku akan menaiki angkot itu. Angkot itupun alhamdulillah berhenti. Lega. Aku pamit pada Bapak, dan mencium tangannya (salim) sembari memberi salam, “Assalamu’alaikum.”, aku pun berangkat. Naik angkot. Angkotnya agak penuh, beruntung aku masih dapat tempat duduk, walaupun mepet tetap bersyukur. 🙂

Sunyi, tidak ada satu orang pun yang berbincang di angkot ini. Kanan..Kiri.. aku sama sekali tidak mengenal satu pun orang yang ada di angkot ini. Ku alihkan pandanganku ke luar jendela, hujan masih setia dengan kota ini. Terbesit dalam benakku, habis ini aku harus jalan kaki, ngluarin payung nggak ya?  Ya Allah.. Anna mohon.. tolong redakan hujan ini, tolong hentikan hujan inii.. biar Anna bisa sampe’ sekolah, tanpa kebasahan, tanpa ngluarin payung Ya Allah.. please… Do’a ku tulus. Kalian pasti berpikir kenapa kayaknya aku susah banget untuk menggunakan alat yang namanya payung? Jawabannya, entah. Aku juga tidak tau. Aku malas mengeluarkan payung, sumpah malas. Kalau boleh dibilang, “Cius aku males.”

Perjalanan naik angkot hampir selesai, dan itu artinya sebentar lagi aku harus berjalan kaki menuju sekolahku. Aku binguung, hujan belum reda sama sekali. Dalam hati, aku membuat suatu pilihan, pilihan yang sama sekali aku tak ingin memilihnya. Aku harus ujan-ujanan? Atau ngeluarin payung?

__Angkot ini pun berhenti, aku belum mengeluarkan payung dari dalam tas ku. “Oke.. mendingan turun dulu dari angkot, habis itu liat apa yang terjadi..Haha”, pikirku yang amat aneh.

Selembar kertas yang telah disahkan oleh Bank Indonesia, dan diberi nama uang bernominalkan seribu rupiah aku berikan pada pak sopir, dengan setulus hatiku. Aku berbalik arah, menatap sekitar. Masih hujan. Aku harus bergegas menuju tempat untuk berteduh sebentar.

Lamaa…. dan hujan pun ternyata masih sangat setia. Melihat sekitar, kanan..kiri.. Eih! Itu temanku! Disana ada salah satu temanku! daaann…. dia bawa payung! Ya, ini jawaban atas do’aku. Ingin aku berteriak, sujud syukur, atau mungkin lompat sampai ke langit ke tujuh. Namun sepertinya tidak bisa. Arrgh! Aku menghampirinya dan mengobrol basa-basi untuk mencairkan suasana. Hm… Walaupun tidak begitu akrab, setidaknya aku bisa nebeng payung sama dia. Jadi aku nggak kehujanan.. dan aku nggak harus ngluarin payung.

Satu kata. Alhamdulillah…. 🙂

nb: nggak100%nyata

^_^

Advertisements