Search

nur lailyana

…to share another magic with you…

Month

May 2016

Tuan?

Adakah yang mengerti aku, Tuan?
Sebab kini kau pun bukan jawaban
Entahlah sudah; segala alasan
Sana-sini hilang arah tujuan
Adakah kau masih untukku, Tuan?

Advertisements

Rindu

Kembali mengudara perlahan
Membawa angan semakin jauh mengangkasa
Untuk banyak rindu lama, yang terpendam
Ditimbun nyata, yang tak berkelanjutan
menggores luka
sayatan perih
Menggenangkan lagi asa lalu
Menitik tak mau tau,
jatuh menginjak bumi untuk kesekian
Padamu mata ini tak ragu
Bulir satu dua, lalu beruntun
Siapkah kau tampung sedih sayu sepi?
yang pasti jelas kau lihat saat benar ada di sini

Lalu ku temukan kau pada sudut merah
yang ranum oleh amarah
Masih sama seperti awal jumpa
Kau malu-malu bagai tersipu hindari aku

Sampai lepas sudah segala rindu
yang sempat bermalam
Pada matamu
yang juga masih aku kenali di hari lalu

Lagi-lagi

Begini malam, sunyi lagi-lagi hadirkan sepi. Seperti yang kamu tahu. Aku bukanlah jiwa yang bisa meretas hampa dengan sendiri. Aku bukanlah yang tegar bila angan mencoba lari, menuju yang lalu sebelum hari ini.

Begini malam, masih payah membiarkan gelisah bergerilya leluasa menjamah ruang langit pikiran tanpa berkesudahan. Lagi, kini mulai ragu untuk mampu hempaskan ingin. Aku mulai tak sabar menanti pagi dengan kamu yang mengusir cemas, membiaskan kangen dalam aku yang sebegini rindu.

Kau pagi, masihkah aku butuh banyak waktu untuk menunggumu datang bersama dia? Atau itu tak mungkin, lagi.

00.50

Up ↑